Penjelasan Tentang Hukum Bisnis Paytren

Tidak sedikit orang yang bertanya tentang hukum bisnis Paytren. Bahkan ini sempat menjadi pertentangan yang menghebohkan, karena ada beberapa pihak yang menganggapnya haram dengan berbagai alasan, dan ada beberapa pihak lain yang menganggapnya halal dengan berbagai alasan yang mendukung pula.

Namun, kembali ke tahun 2017 yang lalu, Paytren ternyata berhasil memperoleh sertifikat dari MUI yang menjadi pertanda bahwa bisnis ini memanglah halal. Pun demikian, sertifikat tersebut ternyata tidak mampu meredakan pertentangan masalah halal atau haramnya Paytren, karena yang namanya manusia pastilah memiliki pendapat masing-masing serta mempunyai ego untuk mempertahankan pendapatnya tersebut.

Bagaimana Paytren Bisa Dikatakan Halal?

hukum bisnis paytren

Bagaimanapun MUI telah memeriksa Paytren dengan ketat serta sesuai dengan prosedur yang berlaku sebelum akhirnya mengeluarkan sertifikat halal untuk Paytren. Sementara itu, para praktisi ekonomi muslim serta semua elemen pondok pesantren masih berdebat tentang hukum bisnis Paytren ini, dimana dalam perdebatan tersebut ada 3 hal yang menjadi sorotan, antara lain:

  1. Masalah Transaksi Jual Beli Lisensi

Hal yang pertama adalah masalah transaksi jual beli lisensi. Berdasarkan pendapat salah satu ulama terkemuka, menjual lisensi ini memang berbeda dengan menjual handphone, dimana untuk handphone barangnya adalah nyata dan benar-benar ada, sementara lisensi itu sebaliknya.

Tetapi, dalam hukum Islam, kita tetap diperbolehkan untuk menjual sesuatu yang wujudnya tak terlihat asalkan sesuatu itu mempunyai nilai. Salah satu produk yang dijual oleh Paytren adalah pulsa yang wujudnya saja jelas-jelas tidak ada, tapi ada nilai dalam pulsa tersebut sehingga Islam memperbolehkannya. Jadi, jika melihat pada hal tersebut, hukum Paytren adalah sah.

  1. Sistem MLM atau Multi Level Marketing atau Pemasaran Bertingkat

Kita tahu bahwasanya Paytren mengadopsi sistem MLM dalam penerapan bisnis nya. Dalam hal inipun MUI pasti sudah memilah yang mana MLM yang tidak melanggar syar’i dan yang mana MLM yang tidak memenuhi ketentuan syar’i. Nah apabila produk yang diperjual belikan itu memang ada dan nyata, maka dia akan dihukumi sah.

Sementara dalam Paytren, yang diperjual belikan adalah lisensi (sesuai dengan yang telah disebutkan di poin pertama atau kemudahan dalam membayar. Jadi, dari segi sistem MLM-nya Paytren juga tidak ada masalah.

  1. Gharar atau Ketidakjelasan yang Bisa Menimbulkan Perselisihan

Hal yang ketiga adalah jual beli yang gharar atau ketidakjelasan yang bisa menimbulkan perselisihan. Faktanya, dalam Paytren, produk yang dijual adalah produk-produk yang menguntungkan serta bermanfaat. Jadi, untuk hal ketiga inipun Paytren sudah memenuhinya, sehingga dengan begini hukum bisnis Paytren tidaklah haram.

Ketiga hal yang menjadi perbincangan tersebut dengan nyata sudah dipenuhi semuanya oleh Paytren. Kemudian dari MUI sendiri, masih ada beberapa kriteria lain yang harus dipenuhi supaya bisnis dengan sistem MLM bisa dikatakan halal. Dan semua kriteria tersebut apabila dijumlahkan semuanya ada 12.

Jika nantinya ada salah satu kriteria saja yang tidak terpenuhi, sudah pasti sertifikat halal tersebut tidak akan dikeluarkan, dan bisnis yang bersangkutan juga merupakan bisnis yang tidak sesuai dengan syariat.

Karena Paytren sudah berhasil mengantong sertifikat ini sejak tahun lalu, bukankah ini menjadi pertanda bahwa Paytren memang tidak masalah bila dijalankan oleh orang-orang yang menaruh minat dengannya. Betapapun banyaknya pihak yang mengeluarkan argumen tentang hukum Paytren, tetap saja ini kembali pada pribadi masing-masing hendak mengikuti hukum yang mana, apakah yang halal ataukah yang haram.

😡
☹️
😐
☺️
😍
5/5😍7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu