Hukum Paytren Yang Belum Banyak Dimengerti Masyarakat

Sejak tahun 2013, banyak sekali yang mulai penasaran mengenai bisnis baru besutan ustad yusuf Mansur bernama paytren. Sejak mulai di kenalkan di masyarakat, banyak orang yang memiliki ketertarikan kepada bisnis berbasis digital ini. Kemudian banyak yang mencari informasi seputar bisnis payment yang terkenal di kalangan jamaah ustad yusuf Mansur ini.

Beredar informasi yang simpang siur mengenai bisnis ini. Ada yang mengatakan bisnis ini sebagai bisnis yang menguntungkan para mitra yang bergabung dengan paytren. Namun tak sedikit yang menyatakan bahwa bisnis ini adalah bisnis penipuan yang dapat merugikan mitra yang telah bekerja sama dan bergabung bersama paytren. Hal inilah yang membingungkan apalagi jika dikaitkan dengan hukum paytren.

Apalagi bagi orang yang baru ingin memulai bisnis dan sedang mencari-cari model bisnis yang mudah untuk dijalankan. Untuk itu, perlu kita ketahui sebenarnya bagaimana spesifikasi bisnis ini. Selain itu, untuk mengetahui apakah bisnis ini merupakan bisnis yang halal untuk dijalankan atau tidak, maka kita perlu mengetahui bagaimana sebenarnya hukum berbisnis dengan paytren ini.

hukum paytrenHukum Paytren dalam Islam

Di dalam islam, ada transaksi yang dilarang untuk dilakukan oleh umat muslim. Transaksi yang terlarang tersebut adalah transaksi yang dalam tehnis pelaksanaannya atau prosesnya mengandung gharar. Gharar sendiri merupakan sistem jual beli di mana dalam proses transaksi tersebut tidak jelas bagaimana konsekuensinya. Artinya, dalam transaksi tersebut terdapat unsur ketidakjelasan.

Dapat dikatakan bahwa gharar yang terdapat dalam sebuah transaksi yang kemudian dilarang dalam islam, di karenakan gharar lebih lanjut akan dapat menyebabkan adanya mukhatharah. Mukhatarah secara lebih sederhana dapat dimaknai sebagai spekulasi, atau untung-untungan, baik itu terjadi pada barang ataupun terjadi pada harga barang yang di transaksikan.

Hal inilah yang kemudian menjadikan gharar ini identik dengan judi. Keduanya memiliki konsekuensi yang tidak jelas. Ketidakjelasan inilah yang dilarang dalam transaksi menurut ajaran agama islam. Yang membedakan gharar dengan judi hanyalah jika judi berbentuk permainan, sedangkan gharar ini sendiri terjadi dalam sebuah transaksi yang bisa saja terdapat pada transaksi jual beli tanpa kejelasan akad.

Dalam semua bentuk transaksi yang memiliki unsur ketidakpastian atau ketidakjelasan, maka transaksi tersebut secara otomatis dilarang dalam islam. Begitu pula dengan unsur untung-untungan. Transaksi dianggap telah resmi terjadi jika mengacu pada suatu hal yang tidak pasti. Dalam hadist banyak dicontohkan jenis jual beli atau transaksi untung-untungan ini.

Dan semua jenis transaksi yang mengandung dua unsure itu dilarang untuk dijalankan oleh umat islam.Β  Tak cukup hanya dua hal tersebut, namun transaksi jual beli yang berpedoman pada acuan sentuh juga dilarang. Transaksi ini bernama mulamasah. Jika menyentuh barang, berarti membeli. Hal ini dilarang karena dianggap sama dengan bentuk transaksi untung untungan.

Yang juga di larang adalah munabadzah. Penjual akan melemparkan barang yang di perjualbelikan kepada pembeli, siapa yang terkena lemparan barang tersebut maka dianggap membeli. Ini juga termasuk jenis transaksi untung-untungan yang disebutkan sebagai transaksi yang diharamkan oleh syariat dalam ajaran agama islam.

Paytren Merupakan MLM syariah, Hal ini terbukti dengan adanya sertifikat Syariah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI)

paytren haram

Gharar dalam sistem MLM

Setelah membaca mengenai hukum paytren diatas, kemudian kita membahas mengenai MLM> Yang sudah kita ketahui bersama bahwa bisnis dengan sistem multi level marketing (MLM) menekankan pada bagaimana member bisa memperoleh downliner sebanyak mungkin. Ini artinya, bisnis ini menitik beratkan tidak pada pembelian produk. Karena komisi atau bonus akan diberikan kepada member atau mitra yang mampu memperoleh downliner bukan yang belanja produk sebanyak mungkin.

Berarti, dapat kita simpulkan bahwa produk dalam sistem multi level marketing bukan menjadi tujuan utama berbisnis. Hal ini juga menunjukkan tidak sebandingnya antara harga dengan manfaat produk yang dibeli karena member yang hanya membeli produk tidak akan memperoleh fee atau bonus seperti yang didapatkan ketika berhasil mengumpulkan downliner.

Dengan sistem yang sudah terkenal mengenai multi level marketing ini, kita dapat memahami bahwa terbentuk pola piramida dalam hal keuntungan yang akan di dapatkan ketika bergabung menjadi member bisnis multi level marketing. Di sini berarti orang orang yang berada di posisi di bawah, harus mengeluarkan uang untuk membayar orang orang yang posisinya di atasnya (upliner)

Tentunya, keberadaan produk di sini hanya sebagai kamuflase agar mendapatkan legalitas secara hukum Negara. Karena banyak Negara yang melarang sistem bisnis dengan menggunakan multi level marketing yang mengharuskan anggotanya untuk membayar tanpa adanya barang atau jasa yang diperjualbelikan.

Selain itu, sistem multi level marketing juga menjadikan para downliner ini menghadapi resiko yang besar untuk rugi karena harus membayar komisi untuk upliner dan tidak memiliki peluang mendapatkan fee atau bonus kecuali jika menarik member baru yang kemudian posisinya akan berada di bawahnya sesuai pola piramida seperti yang telah dijelaskan di atas tersebut.

Hukum Paytren dan Fatwa mengenai Multi Level Marketing

Merujuk pada bentuk pola piramida yang telah dijelaskan di atas, maka muncul fatwa mengenai bisnis yang menggunakan sistem multi level marketing. Jika dilihat pola berbentuk piramida, maka dapat disimpulkan bahwa prinsipnya adalah memakan harta orang lain secara bathil dan menipu yang lainnya. Sistem berjenjang inilah yang menjadi sorotan atas fatwa mengenai bisnis multi level marketing.

Dalam sistem berjenjang, tentu tidak akan mungkin dapat berkembang terus tanpa memiliki ujung. Ketika sudah berhenti nanti, maka prinsip sistem ini akan memakan korban. Jika ditanya siapa korbannya, maka dapat disimpulkan bahwa ada pihak minoritas yang diuntungkan dan merugikan pihak mayoritas yang menempati tangga terbawah dalam posisi piramida tersebut.

Pihak mayoritas ini adalah orang-orang yang baru bergabung atau menjadi anggota multi level marketing dalam kelas downliner. Inilah yang menjadi akar masalah mengapa multi level marketing tidak dibenarkan menurut fatwa yang berkembang di kalangan pendakwah di antara umat muslim.

Berikut ini beberapa poin mengapa sistem bisnis yang menggunakan multi level marketing dipermasalahkan :

  • Member baru yang ingin mendaftar dan bergabung diharuskan membayar sejumlah uang terlebih dahulu
  • Dana yang dihimpun dari para member baru bukan dialokasikan untuk membeli barang atau produk yang diperjual belikan tetapi murni membayar keanggotaan
  • Tujuan utama yang disasar para anggota atau member adalah fee atau bonus yang akan di dapatkan ketika mampu mendapatkan member baru sebagai downliner.
  • Merekrut downliner ini dapat dikatakan sebagai untung-untungan karena ketertarikan pasar tidak pasti dan tidak selalu tetap
  • Member yang posisinya di bawah memiliki resiko yang besar untuk mendapatkan kerugian.

Dari beberapa keterangan tersebut, maka dapat disimpulkan bagaimana hukum terhadap paytren yang juga memiliki sistem bisnis mirip multi level marketing. Karena sistemnya sama, maka hukum dan fatwanya pun dapat diadopsi untuk menentukan apakah paytren diperbolehkan dalam islam dan bagaimana hukumnya di mata syariat agama islam.

Hal ini perlu diketahui oleh seluruh umat muslim agar dapat menentukan bisnis yang tepat sesuai dengan syariat islam.

😑
☹️
😐
☺️
😍
5/5😍2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu